Mengenai permasalah pandemic covid-19 yang tengah di
hadapi negara-negara maju tentu membuat sistem perekonomian semakin melemah dan
salah satu negara yang tengah menghadapi hal tersebut, negara Indonesia itu
sendiri. Penurunan jumlah harga akomodasi dan gejolak pasar keuangan yang
berimplikasi pada buruknya sektor perekonomian global dan nasional pasca
pandemic covid-19. Besarnya dampak pandemic covi-19 terhadap Perekonomian
Indonesia melibatkan bahwa Perekonomian Indonesia memiliki tingkat resiko yang
sangat tinggi. Sistem Perekonomian Indonesia memiliki ketergantungan yang
sangat kuat terhadap kinerja Perekonomian China baik dari sisi impor maupun
ekspor. Beberapa bahan baku atau penolong dibidang sektor industri manufaktur
seperti komponen elektronik, produk besi dan baja. China masih menjadi negara
tujuan utama untuk hampir seluruh akomodasi ekspor Indonesia. Walaupun
Indonesia memiliki hubungan dagang dengan negara lain, tetapi proporsinya
relatif kecil dan tidak begitu signifikan baik dalam volume ataupun nilai. Hal
ini pun menjadikan China memiliki peran yang sangat dominan dalam sistem
perdagangan Indonesia. Sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia juga
menghadapi situasi ekonomi yang sulit, maka mendorong terjadinya penurunan daya
beli masyarakat seiring sentimen negatif pada bisnis dan konsumen.
Menteri keuangan mengungkapkan pendapatan negara dan
hibah pada akhir Triwulan I 2020 telah mencapai Rp375,95 triliun. Capaian
pendapatan negara tersebut tumbuh 7,75% (yoy) jauh lebih baik dibandingkan
pertumbuhan di bulan Februari lalu sebesar minus 0,5% (yoy). “Namun demikian,
kita melihat refleksi penerimaan negara di bulan Maret yg tumbuh 7,7% terlihat
cukup baik dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 4,46%, meskipun basis
supporting-nya bukan basis ekonomi secara luas”. Hal ini pun menunjukkan
dukungan berbagai sumber pendapatan negara dalam upaya memperkuat Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi
Covid19. Realisasi Pendapatan Negara yang bersumber dari Penerimaan Perpajakan
dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) masing-masing secara nominal telah
mencapai Rp 279,89 triliun dan Rp 95,99 triliun. Sementara itu, realisasi dari
Hibah pada periode yang sama baru mencapai Rp 0,08 triliun. Penerimaan
Perpajakan dan PNBP tumbuh masing-masing sebesar 0,43% dan 37% (yoy). Sementara
itu, secara keseluruhan pertumbuhan komponen penerimaan Pajak hingga akhir
bulan Maret 2020 masih bersumber dari pajak atas konsumsi rumah tangga,
meskipun penerimaan pajak juga masih dibayangi tekanan akibat tren pelemahan
industri manufaktur dan aktivitas perdagangan internasional, serta pelemahan
aktivitas ekonomi akibat penyebaran Covid-19.
Pandemic covid-19 memang bukan hanya membunuh masyarakat Indonesia melalui kesehatan saja, tetapi lebih jauh akan mematikan Perekonomian Indonesia karena kebijakan dan aturan perusahaan yang memproduksi ataupun mendapatkan penghasilan dengan cara bersentuhan langsung. Tantangan Perekonomian Indonesia saat ini sangatlah berat karena kebijakan dan aturan yang ada mengharuskan masyarakat di Indonesia berhati-hati dengan membatasi bepergian dan konsumsi yang tentunya akan berimbas pada transaksi jual beli di pasaran. Krisis ekonomi global ini tentu memicu pada sektor kegiatan logistik, pariwisata, dan perdagangan. Sejumlah pemerintah melakukan pelarangan yang dengan sengaja melakukan perjalanan keluar negeri dan penutupan beberapa sektor pariwisata. Tentu dengan hal tersebut akibatnya pun kembali pada sektor pendapatan negara yaitu dengan kurangnya wisatawan dari mancanegara. Dampak dari sektor perdagangan, khususnya ekspor dan impor, bahan baku dan barang modal pun dilibatkan. Yakni dari Produksi turun, barang langkah dan harga barang terus meningkat sehingga menimbulkan inflasi. Kenaikan harga barang disertai penghasilan yang menurun merupakan kondisi fatal daya beli bagi masyarakat dikarenakan sebagian bahan baku untuk industri di Indonesia sendiri masih dipasok dari china yang mengalami kendala produksi akibat karantina disejumlah daerah untuk membendung pandemic covid-19. Penyebab ketidakpastian yang sangat tinggi dan menurunkan kinerja pasal keuangan global, menekan banyak mata uang dunia serta memicu pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman.
Adapun jika berakhirnya pandemic covid-19,
perekonomian global di perkirakan kembali meningkat pada tahun 2021 menjadi 3,7
persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya menjadi 3,4 persen. Bank
Indonesia pun semakin memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan OJK untuk
memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap
Indonesia. Dan tidak heran jika pandemic covid-19 didibarakatkan sebagai angsa
hitam bagi ekonomi global. Istilah dari angsa hitam yang digunakan Nicholass
Taleb untuk menekankan peristiwa langkah yang sulit diprediksi dan berpotensi
mempengaruhi dunia keuagan serta sistem sistem ekonomi global. Fenomena ini
meningkatkan kekhawatiran akan pelemahan ekonomi dan mengancam pada resesi ekonomi. Kemudian,
pada awal tahun 2020 optimisme pasar diinterupsi sentimen negatif. Sentimen
dari peristiwa pembunuhan Jendral Iran dan covid-19 dianggap sebagai angsa
hitam karena memicu pasar bereaksi secara berlebihan. Portfolio dari pasar
saham dialihkan ke isntrumen aset berisiko rendah, seperti emas dan obligasi
(safe have).
Wacana penerapan sistem lockdown dapat pula membuat laju perekonomian semakin berat. Tingkat konsumsi melemah yang mempengaruhi beberapa indikator penopang ekonomi. Pasokan bahan pangan dan kebutuhan yang menurun mengakibatkan harga naik di mana-mana dapat mempengaruhi sektor perdagangan. Hal ini akan menimbulkan kelangkaan barang yang akhirnya akan memicu keresahan sosial. Tentu simulasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dalam bidang usaha, bisnis, pajak dan sebagainya. Mari tetap menjaga kesehatan agar terhindar dari virus dan membantu pemerintah agar sistem perekonomian di indonesia kembali membaik .
Sumber :
https://www.cnbcindonesia.com
https://www.google.com/amp/s/amp.wartaekonomi.co.id/berita280853/setelah-pandemi-berakhir-krisis-ekonomi-akan-cepat-pulih
ws/20200425183739-4-154449/ini-7-bukti-covid-19-telah-bikin-ekonomi-dunia-hancur-lebur
https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/zudellaoktavani/5e844366097f36612747d3f2/pandemic-global-covid-19-meruntuhkan-nilai-tular-rupiah


